Laman

Game Reward

Game Reward

Friday, 27 July 2012

Keanekaragaman Hayati Flora di Indonesia


  1. I. PENGERTIAN ISTILAH
Istilah flora diartikan sebagai samua jenis tumbuhan yang tumbuh di suatu daerah tertentu. Apabila istilah flora ini dikaitkan dengan life-form (bentuk hidup/habitus) tumbuhan, maka akan muncul berbagai istilah seperti flora pohon (flora berbentuk pohon), flora semak belukar, flora rumput, dsb. Apabila istilah flora ini dikaitkan dengan nama tempat, maka akan muncul istilah-istilah seperti Flora Jawa, Flora Gunung Halimun, dan sebagainya.
Sesuai dengan kondisi lingkungannya, flora di suatu tempat dapat terdiri dari beragam jenis yang masing-masing dapat terdiri dari beragam variasi gen yang hidup di beberapa tipe habitat (tempat hidup). Oleh karena itu, muncullah istilah keanekaragaman flora yang mencakup makna keanekaragaman jenis, keanekaragaman genetik dari jenis, dan keanekaragaman habitat dimana jenis-jenis flora tersebut tumbuh.
Dalam tulisan ini penulis hanya akan menyampaikan sekilas pandang mengenai keanekaragaman flora pada tingkatan jenis dan habitatnya di Indonesia.
  1. II. SEJARAH SINGKAT PERSEBARAN GEOGRAFI FLORA DI INDONESIA
Pola persebaran flora di Indonesia sama dengan pola persebaran faunanya yang berpangkal pada sejarah pembentukan daratan kepulauan Indonesia pada masa zaman es. Pada awal masa zaman es, wilayah bagian barat Indonesia (Dataran Sunda: Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan) menyatu dengan benua Asia, sedangkan wilayah bagian timur Indonesia (Dataran Sahul) menyatu dengan benua Australia. Dengan demikian, wilayah Indonesia merupakan daerah migrasi fauna dan flora antar kedua benua tersebut. Selanjutnya, pada akhir zaman es, dimana suhu permukaan bumi meningkat, permukaan air lautpun naik kembali, sehingga Pulau Jawa terpisah dari benua Asia, Kalimantan, dan Sumatera. Begitu pula pulau-pulau lainnya saling terpisah satu sama lain.
1)       Disampaikan pada Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Biodiversity  tanggal 11-15 Mei 2009 di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-LPPM IPB.
2)       Dosen pada Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB
3)       Dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB
Hasil penelitian biogeografi hewan oleh Wallace menunjukkan bahwa jenis-jenis hewan yang hidup di wilayah bagian barat Indonesia berbeda dengan jenis-jenis hewan di wilayah bagian timur Indonesia, batasnya kira-kira dari Selat Lombok ke Selat Makassar. Garis batas ini dikenal dengan Garis Wallace. Selain Wallace, peneliti berkebangsaan Jerman, Weber, mengadakan penelitian tentang biogeografi fauna di Indonesia, yang hasilnya mencetuskan Garis Weber yang menetapkan batas penyebaran hewan dari benua Australia ke wilayah bagian timur Indonesia.
Berdasarkan hasil proses pembentukan daratan wilayah Indonesia serta hasil penelitian Wallace dan Weber, maka secara geologis, persebaran flora (begitu pula fauna) di Indonesia dibagi ke dalam 3 wilayah, yaitu:
  1. Flora Dataran Sunda yang meliputi Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Flora di pulau-pulau tersebut berada di bawah pengaruh flora Asia karena ciri-cirinya mirip dengan ciri-ciri flora benua Asia , disebut juga flora Asiatis yang didominasi oleh jenis tumbuhan berhabitus pohon dari suku Dipterocarpaceae.
  2. Flora Dataran Sahul yang meliputi Papua dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Flora di pulau-pulau tersebut berada di bawah pengaruh benua Australia, biasa disebut flora Australis yang didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berhabitus pohon dari suku Araucariaceae dan Myrtaceae.
  3. Flora Daerah Peralihan (Daerah Wallace) yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara yang berada di bawah pengaruh benua Asia dan Australia, yang mana jenis tumbuhan berhabitus pohonnya didominasi oleh jenis dari suku Araucariaceae, Myrtaceae, dan Verbenaceae.
Dalam dunia tumbuhan, flora di wilayah Indonesia merupakan bagian dari flora Malesiana. Ditinjau dari wilayah biogeografi, setidaknya  terdapat tujuh wilayah biogeografi utama Indonesia yang menjadi wilayah penyebaran berbagai spesies tumbuhan, yaitu Sumatra, Jawa dan Bali, Kalimantan, Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya (BAPPENAS, 1993).  Berdasarkan tingkat kekayaan relatif dan keendemikan spesies tumbuhan, maka Irian Jaya (Papua) menempati posisi paling tinggi dibandingkan dengan wilayah biogeografi lainnya, diikuti Kalimantan dan Sumatera (Tabel 1).
Tabel 1.     Perbandingan Kekayaan Spesies dan Keaslian (endemisme) Spesies Tumbuhan di Tujuh Wilayah Biogeografi Indonesia
No.WilayahKekayaan spesiesPersentase spesies endemik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Sumatera
Jawa
Kalimantan
Sulawesi
Sunda Kecil
Maluku
Irian Jaya (Papua)
820
630
900
520
150
380
1030
11
5
33
7
3
6
55
Sumber: FAO/MacKinnon (1981).
Berdasarkan habitatnya, penyebaran tersebut selain di kawasan budidaya sebagian besar terdapat di dalam kawasan hutan. Untuk tumbuhan obat misalnya, sekitar 42% terdapat di hutan hujan tropika dataran rendah, 18% di hutan musim, 4% di hutan pantai dan 3% di hutan mangrove. Untuk jenis paku-pakuan, tercatat penyebarannya di Sumatera sebanyak 500 spesies, Kalimantan 1.000 spesies, Jawa-Bali/NTB/NTT 500 spesies, Sulawesi 500 spesies, Kepulauan Maluku 690 spesies dan Papua 2.000 spesies. Perkiraan jumlah spesies di setiap wilayah penyebaran tersebut boleh jadi ada tumpang tindih antara satu pulau dengan lainnya, namun ada juga spesies endemik (Kato dalam Santosa 1996).
III. SUMBERDAYA FLORA DI INDONESIA
3.1. Keanekaragaman Spesies Flora
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak di kawasan tropis antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua Samudera (Samudera Hindia dan Samudera Pasifik) yang terdiri atas sekitar 17.500 pulau dengan panjang garis pantai sekitar 95.181 km. Wilayah Indonesia luasnya sekitar 9 juta km2 (2 juta km2 daratan, dan 7 juta km2lautan). Luas wilayah Indonesia ini hanya sekitar 1,3% dari luas bumi, namun mempunyai tingkat keberagaman kehidupan yang sangat tinggi. Untuk tumbuhan, Indonesia diperkirakan memiliki 25% dari spesies tumbuhan berbunga yang ada di dunia atau merupakan urutan negara terbesar ketujuh dengan jumlah spesies mencapai 20.000 spesies, 40% merupakan tumbuhan endemik atau asli Indonesia. Famili tumbuhan yang memiliki anggota spesies paling banyak adalah Orchidaceae (anggrek-anggrekan) yakni mencapai 4.000 spesies. Untuk jenis tumbuhan berkayu, famili Dipterocarpaceae memiliki 386 spesies, anggota famili Myrtaceae (Eugenia) dan Moraceae (Ficus) sebanyak 500 spesies dan anggota famili Ericaceae sebanyak 737 spesies, termasuk 287 spesies Rhododendrom dan 239 spesies Naccinium (Whitemore 1985 dalam Santoso 1996).
Kartawinata (2005) melaporkan beberapa hasil studi mengenai keragaman jenis tumbuhan pada berbagai tipe vegetasi/hutan di beberapa pulau utama Indonesia seperti tertera pada Tabel 2.
Tabel 2.  Keragaman jenis tumbuhan pada berbagai tipe vegetasi/hutan di beberapa pulau utama Indonesia
LocalityAlt.(m)Plot size (ha)Mean density (Trees/ha)Number of SpeciesReference
123456
DRYLAND FOREST
East Kalimantan
Malinau 110012.0759225Karrtawijaya et al. (in Prep.)
Malinau 21002 x 1.0413240Yusuf (2003)
Malinau 31004 x 1.0606404Samsoedin ( in Prep. )
Berau<1003 x 4.0521538Sist & Saridan (1999)
Wanariset Samboja 1<10010.5567562Kartawinata (unpublished)
Wanariset Samboja 2<1001.5541239Kartawinata et al. (1981)
Lempake<1001.6445209Riswan, S. (1987)
Sungai Barang
Site 1700–7704 x 0.16719179Bratawinata (1986)
Site 2850–9304 x 0.1683878Bratawinata (1986)
Site 3930–9904 x 0.16785157Bratawinata (1986)
Site 41100–13504 x 0.16648117Bratawinata (1986)
Site 51350–15604 x 0.16785156Bratawinata (1986)
Site 61780–19204 x 0.16654106Bratawinata (1986)
West Kalimantan
Muara Kendawangan N.R.
Hill forest300.377033Purwaningsih & Amir (2001)
Central Kalimantan
Wanariset Sangai15584± 721298Wilkie et al. (2004)
Bukit Karung300-9004×0.15598225Riswan S.(2002)
North Sumatra
Gunung Leuser N.P.
Ketambe 1460-6701.6538116Abdulhadi et al. (1989)
Ketambe 2350-4501.642094Abdulhadi (1991)
Ketambe 3350-4501.6475127Abdulhadi et al. (1991)
Batang Gadis N. P.
Aek Nangali6601538182Kartawinata et al.(2004)
Riau
Bukit Tiga Puluh N.P.
Bukit Lawang2971.0453216Polosokan (2001)
North Sulawesi
Toraut1408109Whitmore & Sidiyasa (1986)
Lore Lindu N.P.
Plot 15000.332330Purwaningsih & Yusuf (2005)
Plot 27500.357047Purwaningsih & Yusuf (2005)
Plot 310000.356741Purwaningsih & Yusuf (2005)
B.N. Wartabone N.P.
Dudepo1800.461064Rahayoe et al. (1996)
Tanganga 12000.241031Rahayoe et al. (1996)
Tabel 2. Lanjutan
LocalityAlt.(m)Plot size (ha)Mean density (Trees/ha)Number of SpeciesReference
123456
Tanganga 22000.248021Rahayoe et al. (1996)
Gunung Kabela 11500.2632346Polosokan & Siregar (2001)
Gunung Kabela 22500.243045Polosokan & Siregar (2001)
Gunung Kabela 33000.248533Polosokan & Siregar (2001)
Gunung Kabela 44000.257561Polosokan & Siregar (2001)
Central Sulawesi
Sausu45-850.477068Sidiyasa (1995)
South Sulawesi
Wotu0.472562Sidiyasa (1988)
South East Sulawesi
Wawoni Island
Lampeapi< 30011 x 0.0956891Rahayoe et al. (2004b)
Lansinowo 11000.543650Purwaningsih (2003)
Lansinowo 23000.549240Purwaningsih (2003)
Lansinowo 35000.38139Purwaningsih (2003)
North Buton W.R.
Gunung Wani 13000.546260Mansur & Wardi (2004)
Gunung Wani 24000.544249Mansur & Wardi (2004)
Soloi1000.555460Mansur (2003)
Maluku
Halmahera6300.574276Whitmore et al. (1987)
Papua
Wamena : Wanduga28000.552828Partomihardjo & Supardiyono (1993)
Wamena : Tengon16000.1581338Partomihardjo (1991)
Wamena : Kurulu1600-23500.756476Partomihardjo (1991)
Yapen Tengah N.R.600-120014 x 0.1799235Partomihardjo (1991)
Supiori N.R. 1-Slope3200.5102493Siregar (2001)
Supiori N.R. 2-Flat ridge3200.5101077Siregar (2001)
Central Java
Karimun Jawa N.P.
Plot 1100 m0.473868Yusuf et al. (2004)
Plot 2200 m0.472571Yusuf et al. (2004)
Plot 3300 m0.486656Yusuf et al. (2004)
West Java
Gunung Halimun N.P.
Purwabakti: 2 nd forest9001.044169Yusuf (2004)
Citalahab : 2 nd forest1000-12000.739551Rahayoe (1996)
Citorek: Plot Group 1905-11275 x 0.153056Mirmanto & Simbolon (1998)
Plot Group 2761-8935 x 0.138461Mirmanto & Simbolon (1998)
Plot Group 3784-9392 x 0.110626Mirmanto & Simbolon (1998)
Cikaniki850-150026 x 0.0960173Mirmanto & Simbolon (1997)
Cikelat1000-160021 x 0.0962480Mirmanto & Simbolon (1997)
Cisarua1100-150013 x 0.0940885Mirmanto & Simbolon (1997)
Cisangku1050-180013 x 0.0967184Mirmanto & Simbolon (1997)
Tabel 2. Lanjutan
LocalityAlt.(m)Plot size (ha)Mean density (Trees/ha)Number of SpeciesReference
123456
Gunung Gede-Pangrango N.P.
Cibodas 11500-19004.088993Abdulhadi et al.(1998)
Cibodas 216001.042757Yamada (1975)
Cibodas 317000.145019Yamada (1977)
Cibodas 419000.156015Yamada (1977)
Cibodas 521000.184014Yamada (1977)
Cibodas 623000.1110011Yamada (1977)
Cibodas 724000.4151610Yamada (1976)
Cibodas 826000.0422258Yamada (1977)
Cibodas 928000.0411007Yamada (1977)
Cibodas 1030000.0438299Yamada (1977)
PEAT SWAMP FOREST
Sumatera
Teluk Kiambang< 1000.275234Anderson (1976)
Muara Tolam< 1000.270546Anderson (1976)
Sungai Siak Kecil< 1000.283150Anderson (1976)
Bengkalis 1< 1000.2458433Siregar (2002)
Bengkalis 2< 1000.2480128Siregar (2002)
West Kalimantan
Sungai Durian<1000.2100639Anderson (1976)
Sungai Sebangan<1000.2120050Anderson (1976)
Sungai Pinyuh & Mandor30-601.6342119Mirmanto et al.(1993)
FRESH WATER SWAMP FOREST
East Kalimantan
Sesayap>1001.040076Suhardjono & Wiriadinata (1984)
West Kalimantan
Kedawangan N.R.
Freshwater swamp150.359017Purwaningsih & Amir (2001)
Semi-swamp200.339054Purwaningsih & Amir (2001)
KERANGAS (HEATH) FOREST
East Kalimantan
Samboja 1<1000.575024Riswan (1987b)
Samboja 2<1000.555414Riswan (1987b)
Untuk jenis paku-pakuan, Indonesia juga tercatat memiliki keanekaragaman spesies yang tinggi mencapai lebih 4000 spesies tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara.  Untuk jenis rotan, tercatat ada sekitar 332 spesies terdiri dari 204 spesies dari generaCalamus, 86 spesies dari genera Daemonorps, 25 spesies dari genera Korthalsia, 7 spesies dari genera Ceratolobus, 4 spesies dari genera Plectocomia, 4 spesies dari generaPlectocomiopsis dan 2 spesies dari genera Myrialepsis. Selain itu banyak juga jenis-jenis keanekaragaman tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat di Indonesia. Menurut catatan WHO sekitar 20.000 spesies tumbuhan dipergunakan oleh penduduk dunia sebagai obat. Zuhud & Haryanto (1994) mencatat ada sekitar 1.260 spesies tumbuhan yang secara pasti diketahui berkhasiat obat.
Indonesia juga tercatat sebagai salah satu pusat Vavilov yaitu pusat sebaran keanekaragaman genetik tumbuhan budidaya/pertanian untuk tanaman pisang (Musaspp.) pala (Myristica fragrans), cengkeh (Syzygium aromaticum), durian (Durio spp.) dan rambutan (Nephelium spp.)

Hutan Indonesia juga diketahui memiliki keanekaragaman jenis pohon palem (Arecaceae) tertinggi di dunia, lebih dari 400 spesies (70%) pohon meranti (Dipterocarpaceae) terbesar di dunia sebagai jenis kayu tropika primadona, dan memiliki 122 spesies bambu dari 1.200 spesies bambu yang tumbuh di bumi. Tingginya kekayaan keanekaragaman tumbuhan tersebut juga ditunjukkan oleh kekayaan di hutan Kalimantan. Misalnya, dalam satu hektar dapat tumbuh lebih dari 150 spesies pohon yang berlainan, tercatat 3.000 spesies pohon, serta memiliki 19 dari 27 spesies durian yang terdapat di kawasan Melanesia. Indonesia juga memiliki lebih dari 350 jenis rotan dan merupakan penghasil ¾ rotan dunia.
Meskipun dari jumlah spesies tumbuhan, Indonesia tercatat sebagai negara dengan kekayaan tumbuhan yang tinggi, namun sayang potensi sumberdaya genetik yang terkandung di dalamnya belum diketahui semuanya. Hanya sebagian kecil spesies tumbuhan yang telah diketahui informasi sumberdaya genetiknya, terutama untuk jenis-jenis yang telah dikembangkan pemanfaatannya secara komersial.
3.2.  Status Kelangkaan
Eksploitasi terhadap keanekaragaman hayati, penebangan liar, konversi kawasan hutan menjadi areal lain, perburuan dan perdagangan liar adalah beberapa faktor yang menyebabkan terancamnya keanekaragaman hayati. Untuk mendorong usaha penyelamatan sumberdaya alam yang ada, dan adanya realitas meningkatnya keterancaman dan kepunahan sumberdaya hayati, maka ditetapkan adanya status kelangkaan suatu spesies. Indonesia merupakan negara dengan tingkat keterancaman dan kepunahan spesies tumbuhan tertinggi di dunia dan merupakan hot-spotkepunahan satwa. Tercatat sekitar 240 spesies tanaman dinyatakan langka, diantaranya banyak yang merupakan spesies budidaya.  Paling sedikit 52 spesies keluarga anggrek, 11 spesies rotan, 9 spesies bambu, 9 spesies pinang, 6 spesies durian, 4 spesies pala, dan 3 spesies mangga (Mogea et al., 2001).  Selain itu ada 44 spesies tanaman obat dikategorikan langka, seperti pulasari, kedawung, jambe, pasak bumi, gaharu, sanrego (Rifai et al., 1992; Zuhud et al., 2001) (Tabel 3).
Tabel 3.  Beberapa spesies tumbuhan obat yang dikategorikan langka
No.Nama Lokal/ PerdaganganNama IlmiahBagian yang digunakan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
Kayu rapet
Pulasari
Pulasari
Secang
Kedawung
Mesoyi
Kemukus
Rasuk angin
Jambe
Pasak bumi
Sidowayah
Kunci pepet
Nagasari
Purwoceng
Sukmodiluwih
Sintok lekat
Bidara laut
Pulai
Kayu ules
Joholawe
Pranajiwo
Bidara upas
Patmosari
Padma
Pelir musang
Gaharu
Gaharu
Paku simpai
Kulit lawang
Temu putri
Puar tenganau
Ki lembur
Kayu pedang
Petir
Perlutan
Cetek
Ki sariawan
Hamperu bebek
Sanrego
Pule pandak
Kemuning
Tabat barito
Asem glugur
Kluwek
Parameria laevigata
Alyxia halmaherai
A. reinwardtii
Caesalpinia sappan
Parkia roxburghii
Cryptocarya massoi
Piper cubeba
Usnea misaminensis
Areca catechu
Eurycoma longifolia
Woodfordia floribunda
Kaempferia angustifolia
Mesua ferrea
Pimpinella pruatjan
Gunnera macrophylla
Cinnamomum sintoc
Strychnos ligustrina
Alstonia scholaris
Helicteres isora
Terminalia balerica
Euchresta horsfIeldii
Merremia mammosa
Rafflesia patma
R. zollingeriana
Anaxagorea javanica
Aquilaria beccariana
A. malaccensis
Cibotium barometz
Cinnamomum culilaban
Curcuma petiolata
Elettariopsis sumatrana
Kadsura scandens
Oroxylum indicum
Parkia intermedia
Scutellaria javanica
Strychnos ignatii
Symplocos odoratissima
Voacanga grandifolia
Lunasia amara
Rauvolfia serpentina
Murraya paniculata
Ficus deltoidea
Tamarindus indicus
Pangium edule
Kulit kayu
Akar
Akar
Kayu
Biji
Kulit kayu
Buah
Talus daun
Seluruh bagian
Akar
Bunga
Rimpang
Bunga
Akar
Kembang
Kulit
Kayu
Kulit
Daun
Buah
Biji
Umbi
Bunga
Bunga
Daun
Kayu
Kayu
Rimpang
Kulit
Rimpang
Daun, rimpang
Kulit
Akar, kayu
Biji
Kulit batang/daun
Biji
Daun, kulit batang
Akar
Daun, bunga
Akar
Buah
Buah
Sumber: Rifai et al. (1992), Zuhud et al. (2001)
Dari catatan lain untuk dunia flora, juga diketahui sekitar 36 spesies kayu di Indonesia terancam punah, termasuk kayu ulin di Kalimantan Selatan, sawo kecik di Jawa Timur, Bali Barat dan Sumbawa, kayu hitam di Sulawesi, dan kayu pandak di Jawa.  Pakis haji (Cycas rumphii) yang pernah populer sebagai tanaman hias kini sulit ditemukan di alam, demikian pula Pakis hias (Ponia sylvestris), Anggrek jawa (Phalaenopsis javanica) dan sejenis rotan (Ceratobulus glaucescens) kini hanya tinggal beberapa batang di pantai selatan Jawa Barat.  Bahkan Whitten (1994) dalam Suhirman et al.(1994) menduga bahwa tiga spesies anggrek endemik Jawa telah punah, yaitu spesiesHabenaria giriensis, Plocoglottis latifolia dan Zeuxine tjiampeana.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999 terdapat tidak kurang dari 58 spesies tumbuhan yang termasuk kedalam 6 famili yang dilindungi, diantarannya yaitu keluarga talas-talasan (miss. Amorphohalus titanum), palem (Ceratolobus glaucencens), anggrek (Phalaenopsis javanica), kantong semar (Nephenthes spp.), bunga patma (Rafflesia spp) dan meranti (Shorea spp.).  Daftar spesies satwa yang dilindungi dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Spesies tumbuhan yang dilindungi (Berdasarkan Lampiran Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999)
TUMBUHAN
I. ARACEAE
1Amorphophallus decussilvaeBunga bangkai jangkung
2Amorphophallus titanumBunga bangkai raksasa

II.  PALMAE

3Borrassodendron borneensisBindang, Budang
4Caryota noPalem raja/Indonesia
5Ceratolobus glaucescensPalem Jawa
6Cystostachys lakkaPinang merah Kalimantan
7Cystostachys rondaPinang merah Bangka
8Eugeissona utilisBertan
9Johanneste ijsmania altifronsDaun payung
10Livistona spp.Palem kipas Sumatera (semua jenis dari genus Livistona)
11Nenga gajahPalem Sumatera
12Phoenix paludosaKorma rawa
13Pigafatta filarisManga
14Pinanga javanaPinang Jawa
II. RAFFLESSIACEA
15Rafflesia spp.Rafflesia, Bunga padma (semua jenis dari genus Rafflesia)
III. ORCHIDACEAE
16Ascocentrum miniatumAnggrek kebutan
17Coelogyne pandurataAnggrek hitan
18Corybas fornicatusAnggrek koribas
19Cymbidium hartinahianumAnggrek hartinah
20Dendrobium catinecloesumAnggrek karawai
21Dendrobium d’albertisiiAnggrek albert
22Dendrobium lasiantheraAnggrek stuberi
23Dendrobium macrophyllumAnggrek jamrud
24Dendrobium ostrinoglossumAnggrek karawai
25Dendrobium phalaenopsisAnggrek larat
26Grammatophyllum papuanumAnggrek raksasa Irian
27Grammatophyllum speciosumAnggrek tebu
28Macodes petolaAnggrek ki aksara
29Paphiopedilum chamberlainianumAnggrek kasut kumis
30Paphiopedilum glaucophyllumAnggrek kasut berbulu
31Paphiopedilum praestansAnggrek kasut pita
32Paraphalaenopsis deneveiAnggrek bulan bintang
33Paraphalaenopsis laycockiiAnggrek bulan Kaliman Tengah
34Paraphalaenopsis serpentilinguaAnggrek bulan Kaliman Barat
35Phalaenopsis amboinensisAnggrek bulan Ambon
36Phalaenopsis giganteaAnggrek bulan raksasa
37Phalaenopsis sumatranaAnggrek bulan Sumatera
38Phalaenopsis violacoseAnggrek kelip
39Renanthera matutinaAnggrek jingga
40Spathoglottis zureaAnggrek sendok
41Vanda celebicaVanda mungil Minahasa
42Vanda hookerianaVanda pensil
43Vanda pumilaVanda mini
44Vanda sumatranaVanda Sumatera
IV. NEPHENTACEAE
45Nephentes spp.Kantong semar (semua jenis dari genus Nephentes)
V. DIPTEROCARPACEAE
46Shorea stenoptenTengkawang
47Shorea stenopteraTengkawang
48Shorea gysberstianaTengkawang
49Shorea pinangaTengkawang
50Shorea compressaTengkawang
51Shorea semirisTengkawang
52Shorea martianaTengkawang
53Shorea mexistopteryxTengkawang
54Shorea beccarianaTengkawang
55Shorea micranthaTengkawang
56Shorea palembanicaTengkawang
57Shorea lepidotaTengkawang
58Shorea singkawangTengkawang
IV. KLASIFIKASI EKOSISTEM
Kartawinata telah membuat bagan unit-unit ekosistem atau tipe-tipe ekosistem darat dan rawa yang ada di Indonesia. Tipe ekosistem dianggap unit-unit yang paling kecil dan dibentuk berdasarkan fisiognomi (kenampakan) struktur dan takson (unit taksonomi) yang khas atau dominan dari vegetasi yang dikombinasikan dengan faktor-faktor iklim dan ketinggian dari permukaan laut serta tanah. Faktor-faktor fisik lingkungan lainnya tidak dimasukkan karena datanya kurang, lagipula perincian ekosistem dengan cirri-ciri vegetasi dan lingkungan dapat dianggap cukup. Berdasarkan komposisi jenis masing-masing tipe ekosistem dapat saja terdiri dari unit-unit yang lebih kecil. Ekosistem hutan kerangas misalnya, mungkin tersusun dari unit komunitas Combretocarpus-Dactylocladus dan Tristania-Cratoxylum.
Menurut Klasifikasi Kartawinata (1976) ini, ada tiga tingkatan klasifikasi, yaitu: Bioma, Subbioma, dan Tipe Ekosistem. Bioma dapat pula disebut sebuah ekosistem yang merupakan unit komunitas terbesar yang mudah dikenal dan terdiri atas formasi vegetasi dan hewan serta makhluk hidup lainnya, baik yang sudah mencapai fase klimaks maupun yang masih dalam fase perkembangan. Di Indonesia dapat dikenal beberapa bioma, yaitu: (a) Hutan Hujan, (b) Hutan Musim, (c) Savana, dan (d) Padang Rumput. Unit-unit ekosistem ini masih terlalu besar untuk digunakan dengan maksud-maksud khusus, sehingga memerlukan pembagian yang lebih kecil lagi.
Pembagian Bioma menjadi Subbioma didasarkan pada keadaan iklim, misalnya untuk Hutan Hujan dibedakan antara Hutan Hujan Tanah Kering dan Hutan Hujan Tanah Rawa (permanen atau musiman). Sedangkan pembagian tipe-tipe ekosistem sebagai unit yang paling kecil dibentuk berdasarkan struktur fisiognomi, faktor-faktor iklim, ketinggian dari permukaan laut, dan jenis tanah.
Klasifikasi ekosistem menurut Kartawinata tertera dalam Tabel 5 berikut ini.
Tabel 5. Satuan-satuan ekosistem di Indonesia berdasarkan struktur fisiognomi, faktor-faktor iklim, ketinggian dari permukaan laut, dan jenis tanah (Kartawinata, 1976)
BiomaSubbiomaTipe Ekosistem
NamaIklimNamaNamaKetinggian dpl (m)Suhu rata-rata (o)QTanahTakson/khas/umum/dominan
I. Hutan HujanSelalu basah sampai kering tengah-tahun  Q<60.01. Hutan Hujan Tanah Kering(1) Hutan hujan Non-Dipterocarpaceae<100026-21<33.3podsolik merah, kuning, latosolAnacardiaceae, Annonaceae, Burseraceae, Ebenaceae (Dyospyros), Euphorbiaceae, Gutiferae, Lauraceae, Leguminosae, Moraceae (Ficus), Myristicaceae, Palmae, Sapindaceae, Sterculiaceae, dsb.
(2) Hutan Dipterocarpaceae campuran<100026-21<33.3podsolik merah, kuning, latosolDipterocarpaceae (Dipterocarpus, Dryobalanops, Hopea, Shorea, Vatica)
(3) Hutan Agathis campuran<250026-13< 60.0podsolik merah, kuning, latosol, podsolAgathis sp.
(4) Hutan pantai<5± 26< 60.0regosolBarringtonia asiatica, Calophyllum inophyllum, Casuarina equisetifolia, Hernandia peltata, Terminalia catappa, Guettarda speciosa, Pandanus tectorius, dsb.
(5) Belukar<100026-21< 60.0podsolik merah, kuning, latosol, podsolMacaranga, Mallotus, Vitex, Trema, Melastoma, Endospermum, dsb.
(6) Hutan Pagaceae1000-200021-26andosol, regosol, pada abu gunungCastanopsis, Lithocarpus, Quercus,Ángel hardia, Podocarpus, Altingia, Magnoliaceae, Phyllociadus, Dacrydium
(7) Hutan Casuarina1000-200021-11< 60.0andosol, regosol, litosolCasuarina Junghuhniana
(8) Hutan Pinus700-100023-18< 60.0andosol, regosol, litosolPinus merkusii
(9) Hutan Nothofagus1000-300021-11<14.3regosol, litosolNothofagus spp.
(10) Hutan Ericaceae1500-240018-23<14.3andosol, regosolRhododendron, Vaccinium,Styphella coprosma, Anaphalis, dsb.
(11) Hutan Araucaria1500-300018-11<14.3regosol, litosolAraucaria cuninghamii
(12) Hutan Konifer2400-400013-6-Litosol, regosolPodocarpus papuanus, Libocedrus, Dacrydium, Phyllocladus, dsb.
(13) Semak4000<6-litosolRhododendron, Vaccinium,Styphella coprosma, Anaphalis, dsb.
2. Hutan hujan tanah rawa (permanen atau musiman)(14) Hutan rawa<100± 26<33.3organosol, aluvialBarringtonia spicata, Camnosperma, Cocceras, Alstonia,Gluta rengas, Lophopetalum,Mangifera gedebe, Pentaspadon metleui, Metroxylon, Pandanus.
(15) Hutan rawa gambut<100± 26<33.3organosolCalophyllum, Combretocarpus rotundatus, Cratoxylon glaucum, Durio carinatus, Tetramerista glabra, Tristania, Pholidocarpus, Melanorrhoea, Pandanus, Parastemon, Agathis, Shorea balangeran, dsb,
(16) Hutan rawa gambut<100026-23< 60.0podsolDactyloccladus, Tristania obovata, Shorea balangeran, Dacridium clatum, Cratoxylum glaucum, Combretocarpus rotundus,Calophyllum, dsb.
(17) Hutan Melaleuca (sekunder)<100± 26< 60.3organosol, aluvialMelaleuca leucadendron
(18) Hutan payau (mangrove)<5± 26< 60.0aluvialRhizophora, Bruguiera, Avicenia, Sonneratia, dsb.
II. Hutan MusimSangat kering tengah tahun; Q>60.0 (tipe D-F); curah hujan per tahun 700-29003. Hutan musim(19) Hutan musim gugur daun<800>22< 60.0mediteran merah kuning, renzina regosol, litosolProtium javanicum, Tectona grandis, Swietenia macrophylla, Pterocarpus, Garuga floribunda, Eucalyptus, Acacia cophioea, dsb.
(20) Hutan musim selalu hijau (Dryever green)<1200>20< 60.0mediteran merah kuning, renzina regosol, litosolSchleicera oleaosa, Schoutenia ovata, Tamarindus indica, Albizia chinensis, dsb.
III. SavanaSelalu basah sampai Sangat kering tengah tahun; Q=0-300 (tipe A-F); curah hujan per tahun 700-71004. Sabana(21) Sabana pohon dan palma<900>22< 60.0mediteran merah kuning, renzina regosol, litosolBorassus, Corypha, Acacia, Eucalyptus, Casuarina/Themeda, Heterophagon, dsb.
(22) Sabana Casuarina1500-240018-13< 60.0andosol, regosol, litosolCasuarina/Themeda, Pennistum, dsb.
IV. Padang rumputSelalu basah sampai Sangat kering tengah tahun; Q=0-300 (tipe A-F); curah hujan per tahun 700-71005. Padang rumput iklim basah(23) Padang rumput tanah rendah<100026-21< 60.0podsolik merah kuning, latosol, litosolImperata cilíndrica, Saccharum spontaneum, Themeda vilosa, dsb.
(24) Rawa rumput dan terna tanah rendah<100± 26< 60.0organosol, aluvialPanicum stangineum, Phragintes karka, Scirpus, Cyperus, Cladium, Fimbristylis, Eguisetum, Monochoria, Ischaemum, Eichornia crassipes, dsb.
(25) Padang rumput pegunungan1500-240018-23< 60.0andosol, regosol, litosolFestuca, Agrostis, Themeda, Cymbopogon, Ischeum, Imperata cylindrica, dsb.
(26) Padang rumput berawa gunung1500-240018-23< 60.0regosol, litosolPragmites karka, Panicum, Machelina, Schipus, Cares, dsb.
(27)Padang rumput alpin4000-4500 (batas salju)<6-litosolDeschamsia, Pesluca, Manostachya, Aulacolepis, Oreobolus, Scirpus, Potentilia, Ranyneolus, Epilobium, Spagnum, dsb.
(28) Komunitas dan lumut kerak>45006-litosolLumut-lumut kerak, Agrastis, dsb.
6. Padang rumput iklim kering(29) Padang rumput iklim kering<900<22< 60.0mediteran merah kuning, regosol, litosol, renzinaThemedia, Heteropogon, dsb.
Khusus untuk flora pegunungan, van Steenis pada tahun 1972 dalam bukunya yang berjudul The Mountain Flora of  Java mengemukakan batas-batas orografik dari flora pegunungan Malesia seperti tertera pada Tabel 6.
Tabel 6. Batas-batas orografik dari flora pegunungan Malesia.
Elevasi (mdpl)VegetasiZonasiKeterangan
-5-1ZONA LITORAL (lamun dan alga)ZONA LAUTVEGETASI POHON ALAMI
-1-0.25MANGROVEZONA PANAS
0.25-1FLORA PANTAI
1-5BARRINGTONIA & GUMUK PASIR
5-500ZONA PAMAH
500-1000ZONA BUKIT
1000 – 1500Hutan tertutup berbatang pohon tinggi dan miskin akan lumutZONA SUBPEGUNUNGAN
1600-2000Hutan tertutup berbatang pohon tinggi di atas elevasi 2000 m, dengan diameter batang yang bertambah kecil dan lumut yang bertambah banyakZONA PEGUNUNGAN
2100-2400
2500-3300Hutan rapat rendah dengan pohon-pohon tinggi, menyendiri, sering berlumut, atau terdapat koniferaZONA SUBALPIN
3400-3600BATAS HUTAN
3700-3900Semak-semak rendah menyendiri atau berupa rumput atau konifera
4000BATAS POHON
4100-4500GURUN BATU
Dengan lumut, lumut kerak dan beberapa Fanerogam, terutama rumput dan teki
ZONA ALPINVEGETASI TERNA ALPIN ALAMI
4600-5000SALJU ABADIZONA SALJU (NIVAL ZONE)
1)       Disampaikan pada Pelatihan Identifikasi dan Pengelolaan Biodiversity  tanggal 11-15 Mei 2009 di Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-LPPM IPB.
2)       Dosen pada Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB
3)       Dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB

No comments:

Post a Comment